Beranda | Artikel
Generasi Pertama Kaum Sufi
Kamis, 18 Agustus 2022

Bersama Pemateri :
Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary

Generasi Pertama Kaum Sufi ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 17 Muharram 1444 H / 15 Agustus 2022 M.

Kajian Islam Tentang Generasi Pertama Kaum Sufi

Ibnul Jauzi mengatakan bahwa generasi pertama kaum sufi mengakui berpedoman kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Setan hanya dapat mengelabui mereka melalui celah keterbatasan ilmu yang dimiliki oleh para penganut paham ini. Iblis merusak kaum sufi dari pintu jauhnya mereka dari ilmu.

Abu Sulaiman Ad-Dariny mengatakan: “Sesekali terlintas di dalam hatiku satu noktah dari sekian banyak noktah, namun aku tidak mau menerima lintasan itu tanpa merujuk dua saksi yang adil, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.” Ini generasi pertama dari kaum sufi yang mereka juga mengakui bahwa rujukan adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Beliau masih menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai rujukan, walaupun bisikan-bisikan untuk mengucapkan sesuatu seperti yang diucapkan dan dilakukan kaum sufi itu ada dalam hatinya.

Imam Syafi’i berkata bahwa jika ada orang yang melayang di udara dan berjalan di atas air, maka jangan percaya dia adalah wali Allah sebelum kamu cocokkan keadaannya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, apakah dia orang yang berjualan di atas Qur’an dan Sunnah? Itu yang menjadi acuan dan standarisasi di kalangan para ulama, yaitu apakah itu berada di atas Qur’an dan Sunnah atau tidak. Kalau tidak maka beliau menolaknya dan tidak mengikutinya.

Diriwayatkan juga dari Abdul Hamid Al-Hubuli, dia mengatakan: “Aku mendengar Sarri berkata: ‘Siapa yang meyakini ilmu batin (hakikat) dengan menyalahi dzahir (syariat) maka dia telah keliru.`”

Maka hukum dzahir (syariat) adalah landasan atau hukum dasar, yang mana apa yang terbangun di atasnya tidak boleh bertentangan dengannya. Makrifat harus berdasarkan syariat. Demikian juga yang mengungkap hakikat sesuatu, maka juga harus berlandaskan syariat.

Diriwayatkan juga dari Al-Junaid, dia mengatakan: “Madzhab kami terikat dengan dua asas: Al-Qur’an dan As-Sunnah.”

Jadi kaum sufi generasi pertama mengambil Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai asas, mereka berpedoman kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Tidak seperti generasi akhir dari kaum sufi ini yang justru bergelimbang di dalam bid’ah dan meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Hal ini sebabnya adalah ketika mereka mulai menjauh dari ilmu. Sehingga makin lama generasi-generasi yang datang kemudian dari kalangan kaum sufi ini pun menyimpang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bahkan ada yang terang-terangan memusuhi Al-Qur’an dan Sunnah dan orang-orang yang berpegang teguh dengannya. Sementara di generasi awal mereka justru mengajak manusia untuk berpegang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tentu ini adalah perkara yang sangat bertentangan.

Al-Junaid juga berkata: “Ilmu kami bergantung pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Siapa yang tidak hafal Al-Qur’an, tidak menulis hadits dan tidak mendalami agama, ketahuilah bahwa dia tidak boleh diikuti.” Ini perkataan Al-Junaid salah seorang tokoh kaum sufi juga yang menjadi rujukan dan perkataannya menjadi sandaran bagi kaum sufi. Tapi apa yang terjadi? Justru tiga hal ini dilanggar oleh kaum sufi. Mereka berpaling dari Al-Qur’an dan lebih nyaman dengan syair-syair, mereka tidak meriwayatkan hadits bahkan mengingkari hadits, dan mereka tidak mendalami agama. Kaum sufi yang datang belakangan beranggapan bahwa menuntut ilmu itu adalah penghalang terbesar di dalam perjalanan mereka menempuh ajaran tasawuf.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/52033-generasi-pertama-kaum-sufi/